Bertahan melawan virus: beragam sebab untuk vaksinasi COVID-19

10 January 2023
Photo story

Apa yang menyebabkan kita ingin mendapatkan vaksin COVID-19? Ada yang karena ingin membangun tembok perlindungan di sekitar orang tercinta. Yang lain didorong alasan lebih pragmatis: untuk dapat menyeberang pulau, berjualan di pasar tradisional, atau menerima bantuan pemerintah. Bagi kebanyakan dari kita, penyebabnya adalah campuran dari berbagai alasan.

Berikut adalah beberapa jawaban lugas orang-orang yang diwawancarai selama evaluasi pasca pengenalan vaksin COVID‐19 (COVID‐19 vaccine post‐introduction evaluation, cPIE). Kementerian Kesehatan, didukung oleh WHO dan Pemerintah Jepang, melakukan cPIE di enam provinsi selama November-Desember 2022. Temuan cPIE akan membantu Indonesia mengidentifikasi cara meningkatkan peluncuran vaksin COVID-19 dan memperkuat program imunisasi nasional untuk secara efektif mencegah mutasi lebih lanjut dan lonjakan kasus pada masa depan.

Cerita foto ini diambil di Kota Ambon dan Kabupaten Seram Barat di Provinsi Maluku.

“Saya punya banyak anak cucu di Seram dan Ambon. Saya takut jika mengunjungi mereka tapi saya membawa COVID-19, mereka akan tertular virus,” kata Pitony Tebiary (62 tahun, kedua dari kanan).

Pitony adalah seorang petani di Inamosol, Kabupaten Seram Barat, yang memiliki tujuh anak dan delapan cucu. Ia tinggal bersama istrinya, lima anak, satu menantu, dan tiga cucu. Saat kampanye vaksinasi COVID-19 dimulai di desanya, Pitony secara aktif meyakinkan keluarga dan tetangganya untuk melakukan vaksinasi bersama. Ia juga sesepuh Honitetu, salah satu komunitas adat Seram. Dalam foto ini, Pitony duduk bersama keluarganya (kiri ke kanan): istri Au Latu Purissa (53), menantu Nonalfia S. Lessy (26), dan putri Ayu Sisilia Tebiary (20).

“Saya mendapatkan vaksin agar aman saat bertemu anak yang pulang dari Jepang,” kata Zusana Luhukai, 45 tahun, di rumahnya di Inamosol, Seram Barat. Johan, salah satu dari tiga putranya, bekerja sebagai awak di kapal Jepang.

 Saat puncak pandemi, putranya tiga kali terinfeksi COVID-19. Ketika Zusana mendengar tentang program vaksinasi COVID-19 di desanya, dia sangat bersemangat. Dia mendorong seluruh keluarganya untuk mendapatkan suntikan. Johan tiba di Ambon pada 2021 dan harus menjalani karantina selama 14 hari sebelum akhirnya bertemu dengan Zusana dan anggota keluarga lainnya di Pulau Seram. Johan sekarang kembali bekerja di kapal.

“Vaksin juga saya perlukan sebagai syarat untuk berjualan di pasar,” tutur Zusana. Zusana dan keluarganya menanam buah-buahan seperti pisang, rambutan, durian, dan makanan pokok seperti sagu. Setiap pagi, dia menjualnya di pasar terdekat. Untuk menekan penularan COVID-19, pemerintah mewajibkan semua penjual untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19.

“Saya punya alergi yang membuat saya takut untuk divaksinasi. Selama dua tahun, saya tidak bisa bertemu keluarga di Jakarta karena belum divaksinasi. Beberapa minggu yang lalu, saya memutuskan berkonsultasi dengan dokter tentang vaksinasi, dan saya mendapat lampu hijau. Jadi saya di sini sekarang,” kata Helmy Sukur, 61 tahun, setelah menerima dosis pertama vaksin COVID-19 di Puskesmas Christina Marta Tiahahu di Kota Ambon. “Saya berharap setelah dosis berikutnya, saya bisa bepergian dengan aman untuk bertemu keluarga saya.”

“Saya divaksinasi karena pemerintah menyarankan kami untuk melakukannya, sehingga saya dapat menghindari gejala COVID-19 yang parah,” kata Yuditya LE Leunufna (22) setelah mendapatkan dosis ketiganya di Puskesmas Christina Marta Tiahahu di Kota Ambon. “Saya juga melakukannya karena diharuskan melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Orang tua saya dan dua adik saya juga divaksinasi.”

“Sekarang kita memerlukan sertifikat vaksin untuk syarat banyak hal. Bagi saya, dosis ketiga diperlukan agar bisa naik kapal feri menyeberang dari Ambon ke Seram,” kata Corneles Rumakus, 64 tahun, di Puskesmas Christina Marta Tiahahu di Kota Ambon. “Tetangga saya punya berbagai alasan, tetapi salah satu dari mereka mengatakan dia melakukannya untuk mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Sertifikat vaksin COVID-19 juga diperlukan untuk itu.”

Kredit foto: WHO/Nyimas Laula