Pertanyaan dan jawaban terkait Hydroxychloroquine dan COVID-19

Mengapa penggunaan hidroksiklorokuin dalam Solidarity Trial dihentikan sementara?

Dengan menimbang bukti-bukti tentang keamanan dan efikasi hidroksiklorokuin sebagai obat bagi pasien COVID-19 yang diterbitkan baru-baru ini, Grup Eksekutif dari Solidarity Trial memutuskan untuk memberlakukan penghentian sementara hidroksiklorokuin dalam uji ini sebagai langkah kewaspadaan sambil menunggu kajian data lebih lanjut tentang keamanan hidroksiklorokuin.

Sebagai contoh, sebuah penelitian observasional yang diterbitkan di Lancet pada tanggal 22 Mei menemukan bahwa, di antara 100.000 pasien dari berbagai negara yang dipilih secara acak untuk menerima hidroksiklorokuin, baik hidroksiklorokuin saja maupun disertai makrolida, didapat angka kematian yang lebih tinggi dan peningkatan frekuensi detak jantung yang tidak teratur.

Keputusan final mengenai kerugian, manfaat, atau tidak adanya manfaat hidroksiklorokuin akan diambil setelah kajian oleh Dewan Pemantauan Keamanan Data tersedia. Kajian ini akan mencakup data dari Solidarity Trial dan uji-uji lain yang sedang berjalan, serta bukti-bukti yang sudah diterbitkan sejauh ini. Keputusan ini diperkirakan akan diambil pada pertengahan bulan Juni.


Apa yang akan terjadi pada orang-orang yang saat ini terdaftar untuk menerima hidroksiklorokuin dalam uji ini?

Pasien-pasien yang sebelumnya dipilih secara acak untuk menerima pengobatan hidroksiklorokuin perlu tetap menerima hidroksiklorokuin sampai pengobatan mereka selesai. Secara umum, hidroksiklorokuin dan klorokuin dianggap aman digunakan pada pasien dengan penyakit autoimun atau malaria.


Bagaimana pandangan WHO mengenai pengobatan profilaksis yang sedang dijalankan di beberapa negara, yang termasuk penggunaan hidroksiklorokuin?

WHO saat ini sedang mengkaji penggunaan hidroksiklorokuin pada pasien COVID-19 yang tergabung dalam Solidarity Trial. Sebagai langkah kewaspadaan, penggunaan hidroksiklorokuin sudah dihentikan sementara sambil menunggu kajian data lebih lanjut tentang keamanan hidroksiklorokuin.

Setiap negara, khususnya yang memiliki badan pembuat aturan, dapat memberikan anjuran bagi para warganya mengenai penggunaan obat apa pun. Meskipun hidroksiklorokuin dan klorokuin merupakan produk yang terdaftar untuk pengobatan penyakit lain, pada tahap ini kedua obat tersebut belum terbukti efektif dalam mengobati COVID-19. Bahkan banyak otoritas nasional dari negara lain yang telah memberikan peringatan mengenai efek samping kedua obat ini, dan di banyak negara penggunaannya sudah dibatasi khusus untuk uji klinis di rumah sakit dan diawasi ketat.

WHO telah mengingatkan dokter-dokter agar tidak merekomendasikan atau memberikan obat yang belum terbukti kepada pasien COVID-19, dan mengingatkan masyarakat agar tidak mengobati diri sendiri dengan obat-obat yang belum terbukti tersebut. Para pakar di seluruh dunia sepakat bahwa obat-obat ini memang memiliki potensi, tetapi masih diperlukan lebih banyak penelitian lagi untuk menentukan apakah obat-obat antivirus yang ada dapat efektif mengobati COVID-19. Jika terbukti efektif, obat-obat tersebut dapat mengurangi beban COVID-19.


Apa itu Solidarity Trial?

Solidarity Trial adalah sebuah uji klinis internasional yang dijalankan oleh WHO dan mitra-mitranya dalam upaya menemukan obat untuk COVID-19 yang efektif. Diharapkan agar satu atau lebih obat yang diuji dalam Solidarity Trial akan memperbaiki hasil akhir perawatan klinis pasien COVID-19 dan menyelamatkan nyawa. Selain Solidarity Trial, terdapat uji-uji lain sedang dijalankan di seluruh dunia.

Berdasarkan data dari penelitian laboratorium dan uji klinis, Remdesivir, Lopinavir/Ritonavir, Lopinavir/Ritonavir dengan Interferon beta-1a, dan hidroksiklorokuin pada awalnya dipilih sebagai opsi pengobatan. Setelah tersedia bukti baru tentang keamanan dan efikasi hidroksiklorokuin untuk pengobatan bagi pasien COVID-19 di rumah sakit, pendaftaran peserta untuk uji obat ini dihentikan sementara pada tanggal 24 Mei 2020.

Lebih dari 100 negara telah menyatakan ketertarikannya mengikuti uji ini dan WHO aktif mendukung lebih dari 60 negara-negara tersebut, termasuk dalam hal-hal berikut ini:
- persetujuan etis dan regulatif untuk protokol inti WHO;
- identifikasi rumah sakit untuk berpartisipasi dalam uji ini;
- pelatihan bagi tenaga klinis rumah sakit dalam pengacakan dan sistem data berbasis web;
- pengiriman obat yang diuji sesuai permintaan setiap negara yang berpartisipasi.

Sampai saat ini, lebih dari 400 rumah sakit di 35 negara aktif merekrut pasien dan hampir 3.500 pasien telah terdaftar dari 17 negara. Para pakar independen yang tergabung dalam Komite Pemantauan Data dan Keamanan global akan memberikan dan memantau analisa interim dari uji ini.