Pertanyaan dan jawaban terkait COVID-19, HIV dan obat antiretroviral
Apakah orang dengan HIV lebih berisiko terinfeksi virus penyebab COVID-19?
Orang dengan HIV yang tidak menerima pengobatan antiretroviral dan memiliki jumlah sel CD4 yang rendah, terutama orang dengan penyakit HIV stadium lanjut, lebih berisiko mengalami infeksi-infeksi oportunistik dan komplikasi-komplikasi terkait
AIDS. Namun, terdapat bukti-bukti yang terus berkembang dan bertentangan tentang apakah orang dengan HIV lebih berisiko terkena infeksi SARS-CoV-2 dan/atau komplikasi-komplikasi klinis COVID-19 dibandingkan populasi umum.
Orang dengan HIV
dapat mengalami prevalensi lebih tinggi faktor-faktor risiko untuk infeksi dan komplikasi COVID-19 yang telah diketahui, seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, diabetes, penyakit paru-paru kronis, obesitas serta penyakit penyerta dan ko-infeksi
lain seperti tuberkulosis.
Beberapa rangkaian laporan kasus dan studi kohort kecil pada orang dengan HIV yang dirawat inap dengan COVID-19 menunjukkan hasil klinis yang sebanding dan risiko infeksi SARS-CoV-2 yang mirip dengan populasi
umum, terutama pada orang dengan HIV dengan infeksi yang terkendali dengan baik (menerima obat antiretroviral, memiliki jumlah sel CD4 > 200 sel/mm3, dan mengalami supresi beban virus). Data klinis terbatas ini mengindikasikan risiko kematian pada
orang dengan HIV terkait dengan faktor-faktor COVID-19 yang diketahui seperti usia lanjut dan keberadaan penyakit-penyakit penyerta seperti penyakit jantung, diabetes, penyakit saluran pernapasan kronis, dan obesitas [1-3].
Beberapa kajian
sistematis dan non-sistematis telah dilakukan untuk mengevaluasi gangguan-gangguan akibat COVID-19 pada orang dengan HIV; sebagian besar kajian ini menemukan angka kematian dan kesakitan yang sebanding dengan pasien-pasien negatif HIV [4-8]. Metode
dalam kajian-kajian tidak selalu mencakup penilaian gangguan yang mengontrol faktor-faktor risiko COVID-19 yang diketahui [4]. Data pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut (jumlah sel CD4 yang rendah) juga terbatas. Sebuah kajian sistematis,
yang diterbitkan sebagai publikasi pra-cetak, menemukan bahwa dari 144.795 pasien COVID-19 rawat inap di Amerika Utara, Eropa, dan Asia, prevalensi keseluruhan HIV-nya adalah 1,22% [95% CI: 0,61%–2,43%)], dua kali lipat dibandingkan prevalensi
keseluruhan HIV di tingkat lokal pada populasi umum, yaitu 0,65% (95% CI: 0,48%–0,89%) – yang mengindikasikan kemungkinan kerentanan pada orang dengan HIV [9].
Data lain dari topik ini yang bersumber dari beberapa studi kohort
di Afrika Selatan, AS, dan Inggris [10-12] melaporkan peningkatan sedang risiko kematian terkait langsung dengan infeksi HIV setelah disesuaikan usia, jenis kelamin, etnisitas, dan keberadaan penyakit penyerta; sebuah meta-analisis yang belum diterbitkan
yang mencakup studi-studi ini menemukan bahwa risiko kematian pasien positif HIV hampir dua kali lipat dibandingkan pasien negatif HIV; namun, pengaruh penyakit penyerta pada peningkatan risiko COVID-19 berat tidak dapat disingkirkan [13].
Melindungi orang dengan HIV dalam pandemi COVID-19 dan memastikan orang dengan HIV dapat melanjutkan pengobatan sangatlah penting. Para peneliti sedang menginvestigasi apakah orang dengan HIV lebih berisiko mengalami gangguan lebih besar akibat
COVID-19. Bukti-bukti awal tentang peningkatan tingkat sedang kerentanan orang dengan HIV semakin menekankan bahwa orang dengan HIV membutuhkan akses obat-obatan antiretroviral dan pengobatan untuk penyakit-penyakit penyerta, seperti pengobatan untuk
hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru kronis, diabetes, dan tuberkulosis serta tindakan menjaga berat badan yang sehat.
Dibutuhkan data-data dengan cakupan geografis yang lebih luas untuk meningkatkan pemahaman tentang dampak ko-infeksi
SARS-CoV-2 dan HIV pada tingkat keparahan penyakit, perkembangan penyakit, dan hasil perawatan di rumah sakit akibat COVID-19. Untuk itu, WHO mendirikan Global COVID-19 Clinical Platform. Per 4 November 2020, WHO telah menerima data klinis dari 79.000
pasien yang dirawat inap dengan COVID-19 terkonfirmasi atau suspek, termasuk 5.291 orang dengan HIV yang dirawat inap, dari 30 negara di seluruh dunia. Platform ini terbuka untuk kontribusi dari semua Negara Anggota dan fasilitas pelayanan kesehatan;
keikutsertaan Negara-Negara Anggota dan fasilitas-fasilitas kesehatan akan membantu panduan di masa mendatang tentang cara-cara terbaik untuk memastikan orang dengan HIV mendapat perlindungan yang baik selama pandemi COVID-19.
Orang dengan
HIV dianjurkan mengambil langkah-langkah kewaspadaan yang sama yang dianjurkan bagi populasi umum [14-15]: sering mencuci tangan, menjalankan etiket bersin dan batuk, memastikan penjagaan jarak fisik, memakai masker saat perlu dan sesuai peraturan
setempat, mencari pertolongan medis jika mengalami gejala, mengisolasi diri jika mengalami gejala atau berkontak dengan kasus COVID-19 positif, dan tindakan-tindakan lain sesuai respons setempat dan pemerintah.
Penting untuk memastikan
bahwa orang dengan HIV dapat mengakses obat antiretroviral untuk masa yang lebih lama (persediaan untuk 3–6 bulan) dan bahwa program-program pengobatan menjalankan pemberian obat multi-bulan (multi-month dispensing/MMD) untuk obat-obatan antiretroviral
serta obat-obat lain yang diperlukan seperti terapi pengganti opioid, profilaksis TB, dan pengobatan untuk komorbiditas. Penting juga memastikan agar orang dengan HIV menerima vaksinasi tertentu (vaksin influenza dan vaksin pneumokokus) sesuai jadwal
dan memiliki akses persediaan obat-obatan yang cukup untuk mengobati atau mencegah ko-infeksi dan penyakit penyerta.
Apakah obat antiretroviral atau obat yang langsung melawan virus (direct-acting antiviral/DAA) untuk virus hepatitis C dapat digunakan untuk mengobati COVID-19?
Penggunaan obat antiretroviral untuk pengobatan COVID-19 pernah dipertimbangkan berdasarkan studi-studi penapisan virtual dan in vitro. Data yang dipublikasikan mengindikasikan bahwa sebagian besar pasien yang terinfeksi dengan virus penyebab
COVID-19 mengalami gejala rendah hingga sedang, mengalami hasil klinis yang baik, dan tidak membutuhkan rawat inap. Dalam kasus-kasus tertentu, pasien yang dirawat di rumah sakit diberi obat antiretroviral, umumnya kombinasi lopinavir dengan ritonavir
(LPV/r) atau terkadang kombinasi darunavir dengan ritonavir (DRV/r). Sebagian besar studi yang mengkaji kemungkinan manfaat obat antiretroviral pada COVID-19 dijalankan pada orang-orang negatif HIV.
Sebuah kajian sistematis atas penggunaan
obat antiretroviral pada pasien dengan berbagai coronavirus yang dijalankan pada bulan Maret 2020 mengidentifikasi dua uji acak dan 21 studi observasional dan memberikan data hasil klinis tentang penggunaan LPV/r untuk pengobatan COVID-19, SARS, dan
MERS [16]. Uji-uji acak tidak menunjukkan manfaat klinis, studi-studi observasional bersifat inkonklusif, dan keyakinan bukti untuk semua hasil klinis penting berkualitas rendah atau sangat rendah. Sebuah kajian sistematis dan jaringan meta-analisis
yang terus berkembang tentang efikasi dan keamanan pengobatan untuk COVID-19 yang diterbitkan pada bulan September 2020 tidak menemukan bukti meyakinkan apa pun bahwa obat-obat antiretroviral seperti LPV/r mengurangi kematian maupun memperbaiki tingkat
pembersihan virus [17].
Baru-baru ini, dua studi acak lain mengonfirmasi temuan-temuan ini dan tidak mendukung penggunaan LPV/r untuk mengobati pasien COVID-19 yang dirawat inap.
Sebuah uji klinis yang baru diterbitkan menunjukkan bahwa pada pasien
yang masuk rumah sakit akibat COVID-19, LPV/r tidak memiliki kaitan dengan penurunan kematian, lama rawat inap, maupun risiko progresi ke ventilasi mekanis invasif atau kematian [18]. Dalam Uji Solidarity yang dikoordinasi oleh WHO yang baru dipublikasikan,
LPV/r juga tampak memberikan efek minimal atau tidak memberikan efek pada pasien COVID-19 yang dirawat inap, sebagaimana diindikasikan dengan kematian, inisiasi ventilasi, dan masa rawat inap keseluruhan [19].
Berdasarkan bukti yang tersedia,
penggunaan LPV/r dan obat-obat antiretroviral lain kemungkinan tidak memperbaiki hasil klinis orang yang dirawat inap dengan COVID-19.
Beberapa studi acak dan non-acak mengevaluasi obat-obat anti-hepatitis C termasuk sofosbuvir dan declatasvir
untuk pengobatan SARS-CoV-2, dan meskipun hasil-hasil awal ini mengindikasikan manfaat untuk kesembuhan klinis, bukti ini belum cukup (jumlah sampel yang rendah, dimasukkannya sebuah studi non-acak) untuk memberikan rekomendasi penggunaan obat-obat
antiretroviral ini untuk pengobatan SARS-CoV-2 [20].
Apakah ARV dapat digunakan untuk mengobati COVID-19?
Sejumlah studi kecil telah mengkaji apakah obat antiretroviral dapat digunakan untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2, tetapi hasilnya berbeda-beda.
Sebuah studi baru mengindikasikan bahwa orang dengan HIV yang menggunakan tenofovir
disoproksil fumarat (TDF) memiliki kemungkinan lebih rendah terinfeksi SARS-CoV-2. Namun, studi-studi lain mengindikasikan bahwa profilaksis pra-pajanan (PPrP) HIV berbasis tenofovir tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi SARS-CoV-2 dan tidak
juga memperingan perjalanan penyakit COVID-19 [21]. Dalam studi ini, prevalensi SARS-CoV-2 pada orang yang menggunakan PPrP lebih tinggi dibandingkan pada orang yang tidak menggunakannya.
Secara keseluruhan, literatur yang ada tidak memberikan
bukti yang kuat bahwa obat antiretroviral dapat melindungi orang dari infeksi SARS-CoV-2 atau dari penyakit berat akibat virus ini. Namun, tingkat kepastian bukti-bukti ini sangat rendah karena kecilnya jumlah sampel dan ketidakpastian seputar intensitas
paparan.
Orang yang menggunakan PPrP atau obat antiretroviral dengan harapan mencegah COVID-19 perlu menjalankan langkah-langkah kewaspadaan yang sama yang direkomendasikan untuk populasi umum.
Bagaimana posisi WHO tentang penggunaan obat antiretroviral untuk pengobatan atau pencegahan COVID-19?
Saat ini, WHO tidak merekomendasikan penggunaan obat antiretroviral sebagai pengobatan atau pencegahan COVID-19 di luar konteks uji klinis. Sebagian besar publikasi literatur yang ada berkenaan dengan obat antiretroviral bersifat observasional,
dan tidak banyak di antaranya yang berkenaan dengan uji klinis. Literatur ini juga tidak memberikan bukti berkualitas yang mendukung obat antiretroviral untuk tujuan pengobatan maupun pencegahan. Bukti yang ada saat ini tidak menunjukkan manfaat penggunaan
LPV/r dan obat antiretroviral lain dalam menurunkan risiko infeksi SARS-CoV-2 atau memperbaiki hasil klinis pada pasien COVID-19 bergejala.
Dua studi acak baru lain mengonfirmasi temuan-temuan ini dan tidak mendukung penggunaan LPV/r untuk
pengobatan pasien COVID-19 yang dirawat inap. Uji Klinis Recovery menunjukkan bahwa LPV/r tidak terkait dengan penurunan kematian, lama rawat inap, dan risiko perburukan sehingga membutuhkan ventilasi mekanis atau terjadi kematian [18]. Hasil interim
dari uji klinis adaptif WHO di berbagai negara, Uji Klinis Solidarity, juga menemukan bahwa LPV/r berdampak sangat kecil atau tidak berdampak pada angka kematian, pemberian ventilasi mekanik, dan lama rawat inap keseluruhan pada pasien COVID-19 yang
dirawat inap [19].
Bagaimana cara kita memastikan hak asasi manusia dan mengurangi stigma dan diskriminasi?
Seiring ditingkatkannya respons kesehatan masyarakat terhadap pandemi COVID-19 di seluruh dunia, negara-negara didorong untuk mengambil tindakan yang kuat untuk mengendalikan wabah ini. WHO mendorong semua negara untuk memastikan keseimbangan
yang sesuai antara melindungi kesehatan, mencegah gangguan ekonomi dan sosial, dan menghormati hak asasi manusia.
WHO bekerja dengan para mitra termasuk Joint Programme UNAIDS dan Global Network of People Living with HIV untuk memastikan
bahwa hak asasi manusia tidak terkikis dalam respons terhadap COVID-19, orang dengan HIV atau orang yang terdampak HIV mendapat akses yang sama kepada layanan-layanan seperti orang lain, dan layanan-layanan terkait HIV terus berlanjut tanpa gangguan.
Untuk memitigasi kemungkinan wabah COVID-19 di dalam lembaga pemasyarakatan dan mengurangi kesakitan dan kematian pada orang-orang yang ada di lembaga pemasyarakatan dan tempat-tempat tertutup lainnya, lembaga pemasyarakatan dan rumah detensi
imigrasi dilibatkan dalam respons kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi yang erat antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Hukum serta digunakannya protokol-protokol untuk penapisan pelaku perjalanan yang masuk,
langkah perlindungan diri, penjagaan jarak fisik, pembersihan dan disinfeksi lingkungan, dan pembatasan pergerakan, termasuk pembatasan perpindahan dan akses untuk staf non-esensial dan pengunjung. Dalam konteks ini, upaya kerja sama negara-negara
untuk menyusun strategi-strategi non-kurungan sangat dibutuhkan untuk mencegah kelebihan kapasitas di tempat-tempat tertutup [22]. Tata kelola kesehatan di lembaga pemasyarakatan oleh Kementerian Kesehatan lebih mungkin memfasilitasi pendekatan ini
dibandingkan tata kelola kesehatan oleh Kementerian Hukum atau lembaga serupa [23].
Bagaimana program-program dapat memastikan keberlanjutan akses layanan-layanan HIV?
Keberlanjutan akses layanan pencegahan, tes, dan pengobatan HIV harus dipastikan, termasuk di tempat-tempat di mana langkah-langkah pembatasan diberlakukan di dalam respons kesehatan masyarakat terhadap pandemi COVID-19. Langkah-langkah yang
diadaptasi dan berbasis bukti untuk menekan penyebaran yang berpotensi terjadi perlu dipertimbangkan dan diberlakukan. Langkah-langkah ini meliputi [24]:
• menerapkan kewaspadaan standar untuk semua pasien (termasuk memastikan bahwa
semua pasien menutup hidung dan mulutnya dengan tisu atau siku saat batuk atau bersin, memberikan masker medis kepada pasien suspek COVID-19 saat menunggu layanan, membersihkan tangan, dll.);
• bagi tenaga kesehatan, petugas penjangkauan,
pendidik sebaya, dan klien, menjaga kebersihan tangan dan menjalankan langkah-langkah perlindungan lain; • memastikan triase, pengenalan dini, dan pengendalian sumber (mengisolasi pasien suspek COVID-19);
• memastikan terdapat ventilasi
yang memadai di semua area di fasilitas pelayanan kesehatan;
• menjaga jarak fisik idealnya 1 hingga 2 meter antara pasien di semua unit layanan;
• mengikuti prosedur pembersihan dan disinfeksi secara konsisten dan tepat;
•
memberikan obat-obatan (untuk pengobatan HIV, TB, dan kondisi-kondisi kronis lainnya seperti kebergantungan opioid) untuk jangka waktu yang lebih lama, sehingga frekuensi kunjungan pasien dapat dikurangi;
• mempertimbangkan pengurangan layanan
hingga hanya layanan-layanan paling kritis yang diberikan (layanan pengobatan dan pencegahan esensial; layanan-layanan seperti sesi konseling dapat dikurangi atau diadaptasi);
• mengembangkan pemberian layanan dan dukungan secara daring
untuk mengurangi jumlah kunjungan ke klinik, seperti yang telah dilakukan banyak negara;
• meningkatkan pilihan-pilihan perawatan mandiri seperti tes HIV mandiri, seperti yang juga telah dilakukan negara-negara, umumnya dengan pemberian
dukungan daring untuk memastikan layanan terus berjalan; dan
• menggunakan inovasi-inovasi untuk mendukung keberlanjutan layanan-layanan profilaksis pra-pajanan (PPrP) seperti dukungan daring, pembagian obat PPrP ke komunitas dan rumah,
dan penggunaan tes HIV mandiri untuk pemantauan saat layanan di klinik dihentikan sementara (contoh-contoh ini dapat memandu implementasi pemberian layanan dalam masa pasca-COVID-19).
Secara umum, populasi rentan, termasuk anggota-anggota
populasi kunci (laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, pekerja seks, pengguna napza, waria, dan warga binaan pemasyarakatan) serta tuna wisma dan/atau pengungsi dapat lebih berisiko terinfeksi COVID-19 karena penyakit-penyakit penyerta
lain memengaruhi sistem kekebalan, langkah-langkah pembatasan dan penjagaan jarak fisik tidak dapat dijalankan, dan akses layanan kesehatan umumnya terbatas. Sangat penting bahwa layanan-layanan yang menjangkau populasi-populasi ini, seperti layanan
berbasis komunitas, drop-in center, dan layanan penjangkauan yang dapat terus memberikan pencegahan HIV yang dapat menyelamatkan nyawa (distribusi kondom, PPrP, jarum, dan alat suntik), tes, dan pengobatan sambil memastikan keselamatan staf dan klien.
Layanan dapat diadaptasi sesuai pertimbangan-pertimbangan atas jika perlu. Beberapa layanan pencegahan, seperti sirkumsisi medis sukarela laki-laki (SMSL), yang membutuhkan perhatian klinis sempat dihentikan sementara pada tahap-tahap awal respons
wabah COVID-19. Setelah mengkaji situasi COVID-19, beberapa negara menyesuaikan respons mereka dan menjalankan kembali layanan SMSL dengan tambahan langkah-langkah pencegahan COVID-19.
Apa peran resep dan pemberian multi-bulan untuk obat antiretroviral dan obat-obatan lain?
Semua orang dengan HIV yang pengobatan antiretroviralnya berjalan baik dapat memperoleh manfaat dari model pemberian terapi dengan resep dan pemberian obat multi-bulan (multi-month dispensing/MMD) untuk persediaan 3–6 bulan, yang akan
mengurangi frekuensi kunjungan ke fasilitas pelayanan klinis dan memastikan keberlanjutan pengobatan saat pembatasan pergerakan diberlakukan selama wabah COVID-19. Pertimbangan serupa juga perlu diberikan untuk orang-orang yang secara klinis stabil
penerima terapi pengganti metadon atau buprenorfin bawa pulang (take-home) untuk mengurangi beban tambahan pada sektor kesehatan. Banyak negara telah mengimplementasi pemberian dosis bawa pulang untuk pasien stabil penerima terapi pengganti opioid
sesuai rekomendasi WHO [25].
Sesuai praktik umum, pengguna profilaksis pra-pajanan (PPrP) yang telah berpengalaman dapat diberi resep multi-bulan yang dapat mencakup tes infeksi menular seksual reguler sesuai panduan nasional. Orang yang
memulai PPrP perlu datang kembali untuk tes HIV dan kunjungan klinik lanjutan 1 bulan sebelum menerima resep multi-bulan. Hal ini bertujuan menyingkirkan infeksi HIV akut, menilai efek simpang, dan menentukan tujuan kelanjutan penggunaan PPrP. Namun,
kunjungan 1 bulan ini dapat fleksibel untuk klien-klien yang termotivasi dan tidak mengalami kemungkinan pajanan baru terhadap HIV (dalam 3 minggu terakhir). Keputusan-keputusan ini dapat diambil secara kasus per kasus (case by case) antara penyedia
layanan dan klien yang memulai PPrP pertamanya. Layanan kesehatan jarak jauh (telehealth) dan pemberian obat di komunitas dapat dipertimbangkan untuk tindak lanjut. Tes HIV mandiri dengan mutu terjamin dapat dipertimbangkan untuk rumatan.
Apakah ibu dengan HIV dalam masa kehamilan atau nifas dapat menularkan virus COVID-19 kepada anaknya yang belum lahir atau bayinya?
Data tentang tanda dan gejala klinis COVID-19 pada populasi-populasi khusus seperti anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui tidak banyak [26], tetapi temuan dari sebuah penelitian kecil yang telah diterbitkan mengindikasikan bahwa saat ini
belum ada bukti infeksi dalam rahim akibat penularan dari ibu ke anak pada ibu yang mengalami pneumonia COVID-19 pada masa hamil tua dan juga belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan penularan dari ibu ke anak melalui air susu ibu (ASI) [27].
Meskipun belum ada penularan dari ibu ke anak yang terdokumentasi, penularan setelah kelahiran melalui kontak dengan sekresi saluran pernapasan yang infeksius menjadi suatu kekhawatiran. Bayi yang lahir dari ibu suspek, probabel, atau terkonfirmasi
COVID-19 sebaiknya disusui sesuai pedoman menyusui bayi standar [28], di mana kewaspadaan yang perlu untuk pencegahan dan pengendalian infeksi dijalankan. Seperti semua kasus terkonfirmasi maupun suspek COVID-19, ibu bergejala yang menyusui atau menjalankan
kontak kulit atau perawatan metode kanguru perlu menjaga kebersihan pernapasan, termasuk selama menyusui (misalnya, memakai masker medis saat berada dekat anak jika ibunya mengalami gejala pernapasan), membersihkan tangan sebelum dan sesudah bersentuhan
dengan anak, dan membersihkan serta mendisinfeksi secara rutin permukaan-permukaan benda yang disentuh oleh ibu bergejala [29].
• Tanya-Jawab tentang COVID-19, kehamilan, persalinan, dan menyusui
Perlukah ibu dengan HIV yang hamil atau menyusui yang mengalami COVID-19 dan bayi baru lahirnya diberi perawatan yang berbeda?
Saat ini belum ada perbedaan yang jelas antara tanda dan gejala klinis COVID-19 atau risiko penyakit berat atau gangguan janin antara perempuan dengan HIV yang sedang hamil atau tidak sedang hamil. Namun, sebuah penelitian basis data besar
baru-baru ini di Badan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengindikasikan bahwa ibu hamil dengan COVID-19 lebih mungkin membutuhkan perawatan intensif akibat peningkatan risiko mengalami penyakit berat dibandingkan ibu hamil yang tidak
mengalami COVID-19 [30]. Ibu hamil yang suspek atau terkonfirmasi COVID-19 perlu dirawat dengan terapi suportif dan tatalaksana, dengan mempertimbangkan adaptasi sistem kekebalan tubuh dan adaptasi fungsi organ selama dan setelah kehamilan, yang
dapat tampak mirip dengan gejala-gejala COVID-19. Data masih terbatas, tetapi sebelum bukti memberikan informasi yang lebih jelas, ibu hamil dengan penyakit penyerta yang dapat terinfeksi COVID-19 perlu mendapat pertimbangan khusus. Belum ada
laporan kematian pada ibu hamil pada saat informasi ini diterbitkan [31]. Namun, tes COVID-19 untuk ibu hamil mungkin perlu diprioritaskan untuk memungkinkan akses perawatan spesialis. Semua ibu yang baru hamil yang mengalami atau telah pulih
dari COVID-19 perlu diberi informasi dan konseling tentang cara menyusui bayi yang aman dan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi yang sesuai untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 [32].
Tatalaksana untuk ibu hamil dengan
COVID-19 terkonfirmasi maupun sedang diperiksa mirip dengan perempuan tidak hamil, dengan isolasi untuk ibu hamil yang terkonfirmasi atau sedang diperiksa. Fasilitas persalinan harus diberi informasi dan bersiap, mengingat bahwa setiap bayi yang
lahir dari ibu yang terkonfirmasi COVID-19 harus dianggap sebagai ‘orang yang sedang diperiksa’ dan perlu diisolasi sesuai panduan pencegahan dan pengendalian infeksi. Saat ini, belum diketahui apakah bayi baru lahir dengan COVID-19
lebih berisiko mengalami komplikasi berat.
[1] Zhu F, Cao Y, Xu S, Zhou M. Co‐infection of SARS‐CoV‐2 and HIV in a patient in Wuhan city, China, J of Medical Virology 11 Maret 2020. (tersedia di: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/jmv.25732).
[2] Guo W, Ming F, Dong
Y et al. A Survey for COVID-19 among HIV/AIDS Patients in Two Districts of Wuhan, China. Makalah penelitian pra-cetak, The Lancet, 2020.
[3] Gudipati, S, Brar I, Murray S, McKinnon JE, Yared, N, Markowitz N. Descriptive Analysis of
Patients Living with HIV Affected by COVID-19. J Acquir Immune Defic Syndr 2020;85:123–126.
[4] Mirzaei, H., McFarland, W., Karamouzian, M. et al. COVID-19 Among People Living with HIV: A Systematic Review. AIDS Behav (2020).
doi: 10.1007/s10461-020-02983-2.
[5] CostenaroP, MinottiC, BarbieriE, et al. SARS-CoV-2 infection in people living with HIV: a systematic review. Rev Med Virol. 2020 Sep 1:e2155.
[6] Cooper TJ, Woodward BL, Alom S and Harky
A. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) outcomes in HIV/AIDS patients: a systematic review. HIV Medicine (2020), 21, 567—577.
[7] Peng F, Xu B, Xing Y, Guo H, Tang W. Risk factors of critical & mortal COVID-19 cases: A systematic
literature review and meta-analysis. J Infect. 2020 Agt; 81(2): e16–e25.
[8] Prabhu S; Poongulalib S; Kumarasamy N. Impact of COVID-19 on people living with HIV: A review. J Virus Eradication (2020),6(4):100019.
[9]
Ssentongo, Paddy & Heilbrunn, Emily & Ssentongo, Anna & Advani, Shailesh & Chinchilli, Vernon & Nunez, Jonathan & du, Ping. (2020). Prevalence of HIV in patients hospitalized for COVID-19 and associated outcomes: a systematic
review and meta-analysis. 10.1101/2020.07.03.20143628.
[10] Boulle A, Davies MA, Hussey H, et al. Risk factors for COVID-19 death in a population cohort study from the Western Cape Province, South Africa. Clin Infect Dis. 2020;ciaa1198.
[11] Hadi YB, Naqvi SFZ, Kupec JT, Sarwari AR. Characteristics and outcomes of COVID-19 in patients with HIV: a multicentre research network study. AIDS. 2020 Nov 1;34(13):F3-F8.
[12] Geretti AM, Stockdale AJ, Kelly SH, Cevik
M, Collins S, et al. Outcomes of COVID-19 related hospitalization among people with HIV in the ISARIC WHO Clinical Characterization Protocol (UK): a prospective observational study. Clin Inf Dis (2020), ciaa1605.
[13] Mellor M, Bast
A, Jones N, Roberts N, Ordóñez-Mena J, Reith A, Butler C, Matthews P, Dorward J. Risk of adverse COVID-19 outcomes for people living with HIV: a rapid review and meta-analysis Running head: HIV & COVID-19 outcomes: review &
meta-analysis. https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.09.22.20199661v1.full.pdf .
[14] Coronavirus disease (COVID-19) pandemic. World Health Organization, 2020 (tersedia di: (https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019).
[15] Country & technical guidance -Coronavirus disease (COVID-19) pandemic. World Health Organization, 2020 (tersedia di: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/technical-guidance).
[16] Ford N,
Vitoria M, Rangaraj A, Norris SL, Calmy A, Doherty M. Systematic review of the efficacy and safety of antiretroviral drugs against SARS, MERS or COVID‐19: initial assessment J Int AIDS Soc. 2020 Apr; 23(4): e25489. Published online 2020 Apr 1.
doi: 10.1002/jia2.25489.
[17] Reed AC Siemieniuk et al. Living systematic review and network meta-analysis. BMJ 2020; 370 doi: https://doi.org/10.1136/bmj.m2980).
[18] RECOVERY collaborative Group. Lopinavir–ritonavir
in patients admitted to hospital with COVID-19 (RECOVERY): a randomised, controlled, open-label, platform trial Recovery trial, Lancet 2020; 396: 1345–52).
[19] WHO Solidarity trial consortium. Repurposed antiviral drugs for COVID-19
– interim WHO SOLIDARITY trial results. medRxiv 2020.10.15.20209817; doi: https://doi.org/10.1101/2020.10.15.20209817.
[20] Simmons B; Wentzel H; MobarakS Eslami G; Sadeghi A; et al., Sofosbuvir/daclatasvir regimens for the treatment
of COVID-19: an individual patient data meta-analysis.J Antimicrob Chemother (2020) dkaa418, https://doi.org/10.1093/jac/dkaa418.
[21] Ayerdi O et al. Preventive efficacy of tenofovir/emtricitabine against SARS-CoV-2 among PrEP users.
Open Forum Infectious Diseases, ofaa455, published online ahead of print, 25 September 2020.
[22] Effectiveness of interventions to address HIV in prisons. Jenewa, World Health Organization, 2007 (Bukti-bukti untuk Action Technical
Papers) http://whqlibdoc.who.int/publications/2007/9789241596190_eng.pdf?ua=1.
[23] Kinner S. Jesse T. Snow K. Southalan L. et al. Prisons and custodial settings are part of a comprehensive response to COVID-19. The Lancet Public Health.
Published: March 17,2020; DOI:https://doi.org/10.1016/S2468-2667(20)30058-X.
[24]. Clinical management of severe acute respiratory infection (SARI) when COVID-19 disease is suspected Interim guidance, World Health Organization, 13 Maret
2020 (tersedia di: https://apps.who.int/iris/handle/10665/331446).
[25] WHO Guidelines for the psychosocially assisted pharmacological treatment of opioid dependence. World Health Organization, 2009 (tersedia di: https://www.who.int/publications/i/item/9789241547543).
[26] Huijun Chen, Juanjuan Guo et al, Clinical characteristics and intrauterine vertical transmission potential of COVID-19 infection in nine pregnant women: a retrospective review of medical records. Dipublikasikan daring Februari 12,
2020 https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)30360-3.
[27] Breastfeeding and COVID-19, Scientific Brief. World Health Organization. 23 Juni 2020 (tersedia di: https://www.who.int/publications/i/item/10665332639).
[28] Global
strategy for infant and young child feeding, World Health Organization, 2003 (tersedia di: https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/42590/9241562218.pdf).
[29] Zambrano LD, Ellington S, Strid P, et al. Update: Characteristics
of Symptomatic Women of Reproductive Age with Laboratory-Confirmed SARS-CoV-2 Infection by Pregnancy Status — United States, January 22–October 3, 2020. Morb Mortal Wkly Rep 2020;69:1641–1647. DOI: http://dx.doi.org/10.15585/mmwr.mm6944e3
.
[30] Centres for Disease Control. Interim Considerations for Infection Prevention and Control of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) in Inpatient Obstetric Healthcare Settings, 6 April 2020 (tersedia di: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/inpatient-obstetric-healthcare-guidance.html).
[31] Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Corona virus (COVID - 19) infection in Pregnancy. Information for healthcare professionals Versi 12, 14 Oktober 2020. (tersedia di: https://www.rcog.org.uk/coronavirus-pregnancy).
[32] Caring for pregnant women with COVID-19 Clinical management of severe acute respiratory infection (SARI) when COVID-19 disease is suspected: Interim guidance, World Health Organization, 27 Mei 2020. (tersedia di: https://www.who.int/publications/i/item/clinical-management-of-covid-19).