Tanya Jawab: Penyakit coronavirus (COVID-19): Penelitian dan pengembangan vaksin

Bagaimana proses penelitian dan pengembangan dipercepat tanpa mengurangi keamanan?

WHO dan para mitranya berkomitmen mempercepat pengembangan vaksin COVID-19 sambil mempertahankan standar-standar keamanan tertinggi.

Di masa lalu, vaksin dikembangkan melalui serangkaian langkah yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Saat ini, dengan mendesaknya kebutuhan akan suatu vaksin COVID-19, investasi keuangan dan kolaborasi ilmiah yang belum pernah ada sebelumnya menimbulkan perubahan-perubahan dalam pengembangan vaksin. Perubahan ini berarti bahwa beberapa langkah di dalam proses penelitian dan pengembangan dilakukan secara paralel, sambil mempertahankan standar-standar klinis dan keamanan yang ketat. Sebagai contoh, beberapa uji klinis mengevaluasi beberapa vaksin secara bersamaan. Namun, hal ini tidak membuat penelitian menjadi kurang ketat.

Informasi lebih lanjut tentang pengembangan vaksin COVID-19 tersedia di sini.


Apa yang WHO lakukan untuk mempercepat penelitian vaksin COVID-19?

WHO adalah salah satu pemimpin (bersama dengan Gavi dan CEPI)upaya global yang dikenal dengan nama COVAX, yang mempercepat penemuan vaksin-vaksin COVID-19 yang aman dan efektif dengan cara menggabungkan sumber daya dari berbagai negara. Upaya ini meliputi Fasilitas COVAX, suatu mekanisme pembagian risiko global untuk bersama-sama melakukan pengadaan dan distribusi setara akan vaksin-vaksin COVID-19 yang akan tersedia nantinya. Selain investasi dalam penelitian dan pengembangan vaksin, COVAX membantu meningkatkan kemampuan pembuatan vaksin dan komitmen pembelian dosis vaksin jika vaksin terbukti aman dan efektif, dengan tujuan mendistribusikan dua miliar dosis di tempat-tempat di seluruh dunia di mana dosis-dosis ini paling dibutuhkan, pada akhir tahun 2021.

COVAX adalah pilar vaksin Access to COVID-19 Tools (ACT) Accelerator (Instrumen Percepatan Akses Alat-alat COVID-19), suatu kolaborasi global untuk mempercepat pengembangan, produksi, dan akses setara pada tes, pengobatan, dan vaksin COVID-19.

Selain itu, WHO mengadakan uji klinis “Solidarity” yang akan efisien mengevaluasi kandidat vaksin-vaksin COVID-19 di berbagai tempat di seluruh dunia.

Informasi lebih lanjut tentang upaya WHO terkait penelitian dan pengembangan vaksin COVID-19 tersedia di sini.


Apa itu penelitian infeksi manusia terkontrol (human challenge)? Bagaimana pandangan WHO terhadap penelitian jenis ini?

Dalam penelitian vaksin pada umumnya, sekelompok sukarelawan yang berisiko terkena suatu penyakit diberi vaksin uji coba, dan kelompok lainnya tidak; para peneliti memantau kedua kelompok ini dari waktu ke waktu dan membandingkan hasilnya untuk memastikan apakah vaksin tersebut aman dan efektif.

Dalam penelitian vaksin yang menggunakan infeksi manusia terkontrol, para sukarelawan yang sehat diberi vaksin uji coba, kemudian dengan sengaja dipaparkan kepada organisme yang menyebabkan penyakit tersebut untuk melihat apakah vaksin tersebut bekerja. Sebagian peneliti meyakini bahwa pendekatan ini dapat mempercepat pengembangan vaksin COVID-19, antara lain karena penelitian jenis ini membutuhkan jauh lebih sedikit sukarelawan dibandingkan penelitian biasa.

Namun, ada pertimbangan-pertimbangan etis penting yang perlu diperhatikan – terutama untuk penyakit baru seperti COVID-19, yang belum kita pahami sepenuhnya dan yang pengobatannya masih kita pelajari; komunitas medis dan kandidat sukarelawan mungkin akan kesulitan untuk cukup memperkirakan kemungkinan risiko dari partisipasi dalam sebuah penelitian infeksi manusia terkontrol COVID-19. Untuk informasi lebih lanjut, silakan melihat publikasi WHO mengenai etika penelitian infeksi manusia terkontrol COVID-19 ini.


Siapa yang sebaiknya berpartisipasi dalam uji klinis vaksin COVID-19?

Penelitian keamanan (fase I) dalam jumlah kecil untuk vaksin COVID-19 sebaiknya melibatkan sukarelawan orang-orang dewasa yang sehat. Penelitian-penelitian (fase II dan fase III) yang lebih besar sebaiknya melibatkan sukarelawan-sukarelawan yang mewakili populasi sasaran vaksin. Dengan kata lain, orang-orang dari berbagai daerah, latar belakang ras dan etnis, jenis kelamin, dan usia, serta orang-orang dengan kondisi kesehatan penyerta yang membuat mereka lebih berisiko terkena COVID-19, sebaiknya dilibatkan. Melibatkan kelompok-kelompok ini dalam uji klinis adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa suatu vaksin akan aman dan efektif bagi semua orang yang membutuhkannya.


Bagaimana cara saya menjadi sukarelawan dalam suatu uji klinis vaksin COVID-19?

Kesempatan menjadi sukarelawan dalam suatu uji klinis vaksin COVID-19 berbeda-beda dari satu negara ke negara lain. Jika Anda tertarik menjadi sukarelawan, pastikan dengan pejabat kesehatan atau lembaga penelitian setempat.