Tanya Jawab: Ventilasi dan Pengaturan Suhu Udara (AC) di Fasilitas Kesehatan dalam konteks COVID-19

Apa yang telah dilakukan WHO mengenai penggunaan ventilasi dalam konteks COVID-19?

WHO telah berkontribusi dalam menyusun panduan sistem ventilasi dan pengaturan suhu udara dalam konteks COVID-19, yang tersedia di sini. WHO bekerja sama dengan World Meteorological Organization Joint Office for Climate and Health dan United States National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melalui Global Heat Health Information Network untuk mengembangkan dan memperbarui panduan ini. Informasi tambahan tersedia dalam pedoman interim WHO tentang strategi pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) selama perawatan kesehatan ketika dicurigai (suspek) atau dikonfirmasi terjadi penyakit coronavirus (COVID-19).
Panduan ini ditujukan bagi petugas kesehatan, termasuk pengelola layanan kesehatan dan tim pencegahan dan pengendalian infeksi di tingkat fasilitas, tetapi juga relevan untuk tingkat nasional dan kabupaten/kota serta provinsi.


Apa saja persyaratan ventilasi udara yang direkomendasikan untuk fasilitas kesehatan?

Di fasilitas kesehatan, udara luar yang segar dan bersih dalam jumlah besar diperlukan untuk mengendalikan kontaminan dan bau.
Ada tiga kriteria dasar untuk ventilasi:
• ventilation rate (laju ventilasi): jumlah dan kualitas udara luar yang dimasukkan ke dalam ruangan;
• arah aliran udara: arah aliran udara harus dari zona bersih ke zona kurang bersih; dan
• pola distribusi udara atau aliran udara: pasokan udara ke setiap bagian ruangan untuk meningkatkan pelarutan dan pembuangan polutan dari ruangan.

Untuk fasilitas kesehatan pada umumnya yang tidak melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol, ventilasi 60 liter/detik per pasien (L/s/pasien) cukup untuk ruangan berventilasi alami, atau 6 ACH (pergantian udara per jam) untuk ruangan yang memiliki ventilasi secara mekanis.

Untuk ruangan di mana dilakukan prosedur yang menghasilkan aerosol, ventilation rate yang disarankan adalah sebagai berikut:
• Fasilitas/ruangan yang memiliki ventilasi alami: ventilation rate rata-rata yang direkomendasikan adalah 160 L/s/pasien. Penggunaan ventilasi alami tergantung pada kondisi iklim yang mendukung (misalnya, tidak ada risiko tekanan panas, tidak ada polusi udara). Udara yang terkontaminasi harus dibuang langsung ke luar, jauh dari ventilasi udara masuk, ruangan klinis, dan manusia.
• Fasilitas/ruangan yang memiliki ventilasi mekanis: jika tersedia ventilasi mekanis, harus dibuat tekanan negatif untuk mengendalikan arah aliran udara. Ventilation rate harus 6-12 pertukaran udara per jam, idealnya 12 pertukaran udara per jam untuk bangunan baru, dengan perbedaan tekanan negatif yang direkomendasikan sebesar =2.5Pa (0,01 inci water gauge) untuk memastikan bahwa udara mengalir dari koridor ke ruangan pasien.

Udara dari fasilitas/area atau kamar pasien dapat dibuang langsung ke luar. Inti droplet akan dilarutkan di udara luar, atau disaring secara internal dengan filter HEPA khusus yang menghilangkan sebagian besar (99,97%) percik renik (aerosol) sebelum kembali masuk sirkulasi udara biasa. Jika filter HEPA tidak digunakan, udara harus dibuang langsung ke luar, jauh dari ventilasi udara yang masuk, manusia, dan hewan.


Apakah penggunaan AC dapat meningkatkan risiko transmisi SARS-CoV-2 di fasilitas kesehatan?

Beberapa fasilitas kesehatan dapat menggunakan sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC) untuk menjaga suhu dan kelembapan udara dalam ruangan pada tingkat yang sehat dan nyaman bagi staf, pasien, dan pengunjung. Sistem yang dirawat dan dioperasikan dengan baik dapat mengurangi risiko penularan di dalam ruangan dengan meningkatkan laju pergantian udara, mengurangi resirkulasi udara, dan meningkatkan penggunaan udara luar.
Sistem HVAC harus diperiksa, dipelihara, dan dibersihkan secara teratur. Standar yang ketat untuk pemasangan dan pemeliharaan sistem ventilasi sangat penting untuk memastikan bahwa sistem tersebut efektif dan membantu menciptakan lingkungan yang aman di dalam fasilitas kesehatan secara keseluruhan.

Penggunaan AC yang mekanismenya tidak menggunakan/memasukkan udara luar (AC split wall, AC floor standing) harus diupayakan terjadi pertukaran dengan udara luar untuk mengurangi sirkulasi ulang udara di dalam ruangan, misalnya dengan membuka jendela.


Apakah kipas angin dapat digunakan di fasilitas kesehatan?

Di fasilitas kesehatan, penggunaan kipas angin meja atau berdiri untuk sirkulasi udara harus dihindari jika memungkinkan, kecuali jika dalam satu ruangan tidak ada pengunjung atau staf. Jika penggunaan kipas angin meja atau berdiri tidak dapat dihindari, pastikan kipas angin tidak diarahkan ke koridor atau ruangan mana pun yang mungkin dilewati orang karena udara tanpa filter berpotensi menjadikan orang yang berlalu lalang terpapar virus COVID-19. Selain itu, pertukaran udara luar ruangan harus ditingkatkan dengan membuka jendela saat kipas angin digunakan.

Penggunaan kipas angin gantung/langit-langit dapat meningkatkan sirkulasi udara luar dan menghindari kantong-kantong udara yang terhenti di ruangan yang ditempati. Namun, sangat penting untuk menjaga ventilasi luar ruangan yang baik saat menggunakan kipas angin gantung/langit-langit. Cara yang efisien untuk meningkatkan pertukaran udara luar ruangan adalah dengan membuka jendela. Namun, pintu harus ditutup untuk menghindari aliran udara dari ruangan pasien COVID-19 ke ruangan lain di fasilitas kesehatan.


Prosedur medis apa saja yang dapat menghasilkan aerosol di fasilitas kesehatan?

Beberapa prosedur medis dapat menghasilkan aerosol infeksius dan memiliki risiko yang lebih besar terhadap penularan virus-virus corona (MERS-CoV, SARS-CoV-1, dan SARS-CoV-2). Meskipun tidak ada daftar lengkap mengenai prosedur apa saja yang menghasilkan aerosol, data saat ini menunjukkan bahwa prosedur-prosedur berikut dapat menghasilkan aerosol infeksius:

• intubasi trakea
• ventilasi noninvasif
• trakeotomi
• resusitasi jantung paru
• ventilasi manual sebelum intubasi
• induksi dahak
• bronkoskopi
• prosedur autopsi
• prosedur gigi yang menggunakan peralatan penghasil semprotan

Hingga saat ini belum diketahui apakah aerosol yang dihasilkan oleh terapi nebulisasi atau aliran tinggi oksigen bersifat menular, karena datanya masih terbatas.