Pusat Kajian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia
Tumpukan arsip rekam medis di sebuah rumah sakit di Kota Jayapura disiapkan untuk ditinjau sebagai bagian dari studi data kematian malaria.
© Credits

Menghitung Kematian akibat Malaria Guna Mencegah Kehilangan Nyawa Terhindarkan di Indonesia

23 April 2026
Highlights
Reading time:

Di Indonesia, kematian terkait malaria sering kali tidak dilaporkan atau salah diklasifikasikan, terutama yang terjadi di luar fasilitas pelayanan kesehatan atau melibatkan komplikasi. Penyebab-penyebabnya – keterlambatan penanganan, tata laksana yang kurang tepat, atau komplikasi – sering kali tidak dipahami sepenuhnya. Hal ini mengaburkan gambaran dampak sebenarnya dari penyakit tersebut dan membuat intervensi kesehatan masyarakat kurang tepat sasaran. Menanggapi hal ini, World Health Organization (WHO) mendukung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2024 dan 2025 untuk meninjau data kematian terkait malaria di rumah sakit, untuk pertama kalinya sejak 2014.

Bekerja sama dengan Pusat Kajian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia, Kemenkes memeriksa data lebih dari 500.000 kasus malaria yang tercatat antara 2010 hingga 2023 di tiga provinsi berisiko tinggi: Papua, Papua Pegunungan, dan Kalimantan Timur. Analisis ini menemukan bahwa 183 atau 0,034% pasien malaria di rumah sakit meninggal – lebih tinggi dibandingkan data keseluruhan Indonesia dalam sistem informasi malaria nasional. 

Temuan yang menyita perhatian adalah bahwa 44 kematian – sekitar satu dari empat kasus – sebenarnya dapat dicegah dengan diagnosis dan rujukan yang tepat waktu, pemantauan klinis yang memadai, serta pencatatan yang baik. Mengkhawatirkan juga, meskipun jumlah kasus menurun, jumlah kematian akibat malaria tidak banyak berubah.

WHO Global Technical Strategy for Malaria 2016–2030 menyerukan agar kematian akibat malaria dapat diturunkan sebesar 90% pada 2030 dan agar kematian terhindarkan dapat dicegah. Langkah-langkah seperti pengendalian nyamuk yang lebih baik, penggunaan kelambu antinyamuk, dan surveilans yang lebih terarah dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Namun, temuan kajian ini juga menunjukkan kebutuhan mendesak untuk bertindak – dengan meningkatkan mutu pelayanan klinis untuk menyelamatkan nyawa, terutama di daerah-daerah paling terdampak, yang semakin menjadi titik konsentrasi kematian akibat malaria.

Kegiatan ini didukung oleh The Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria.


Ditulis oleh Ajib Diptyanusa, National Consultant for Malaria and Vector-Borne Diseases, dan Budiarto, National Professional Officer (HIV, Hepatitis, and Sexually-Transmitted Infections), WHO Indonesia