WHO/Rosa Panggabean
WHO telah mendukung program Pelayanan Kesehatan Primer Terintegrasi nasional Indonesia untuk memungkinkan masyarakat mengakses layanan kesehatan esensial yang lebih dekat dari rumah
© Credits

Mendorong Dialog untuk Akses Lebih Baik pada Obat-obatan Anak di Indonesia

4 June 2026
Highlights

Anak-anak di Indonesia tidak selalu mendapatkan obat-obatan yang sesuai dengan usia mereka. Banyak obat esensial tidak tersedia dalam formulasi ramah anak, seperti sirup, tablet dispersibel, atau kekuatan dosis yang sesuai untuk anak. Hal ini berdampak pada banyak anggota masyarakat Indonesia, di mana 23,5% atau 66,72 di antaranya berusia 0 hingga 14 tahun pada 2025. Jika obat yang tepat tidak mudah diakses, tenaga kesehatan perlu melakukan penyesuaian terhadap obat dewasa untuk penggunaan pada anak-anak, yang dapat meningkatkan kompleksitas pengobatan dan meningkatkan risiko ketidaktepatan dosis. 

Untuk mengatasi tantangan ini, Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO) Global Accelerator for Paediatric Formulation (GAP-f) atau Percepatan Formulasi Obat Anak Global, mengadakan lokakarya perkenalan di Jakarta pada 4 Maret 2026. Pertemuan ini melibatkan sekitar 40 peserta dari institusi pemerintah, otoritas regulator, universitas, rumah sakit, produsen dan pemasok obat, serta mitra pembangunan. Lokakarya ini bertujuan membangun pemahaman bersama mengenai bagaimana berbagai komponen sistem memengaruhi akses obat untuk anak.

Lokakarya ini membahas berbagai tahapan utama dalam jalur akses obat anak di Indonesia, termasuk persetujuan regulator, proses seleksi dan pencantuman nasional, sistem pengadaan dan rantai pasok, serta kesiapan layanan dan penggunaan dalam praktik klinis. Melalui diskusi kelompok terfasilitasi, para peserta mengidentifikasi hambatan-hambatan dan tantangan-tantangan lintas sektor yang memengaruhi ketersediaan dan penggunaan obat yang sesuai usia anak di seluruh sistem kesehatan.

Isu-isu utama yang diidentifikasi meliputi keterbatasan ketersediaan obat-obatan untuk anak serta masih adanya kesenjangan data dan visibilitas kebutuhan untuk formulasi pediatrik. Kurangnya gambaran kebutuhan yang jelas dapat mengurangi insentif bagi produsen dan pemasok untuk mengembangkan, mendaftarkan, atau menyediakan produk-produk pediatrik. Peserta juga mencatat bahwa ketersediaan bukti klinis, data epidemiologi, indikasi regulator, dan bentuk sediaan yang telah terdaftar memengaruhi proses prioritisasi dan pencantuman nasional. Lebih lanjut, keselarasan antara kebijakan, perencanaan pengadaan, dan penggunaannya untuk pasien masih menjadi faktor penting untuk memastikan akses yang konsisten di fasilitas kesehatan. 

Diskusi-diskusi ini penting bagi Indonesia karena membantu mengidentifikasi area yang perlu koordinasi lebih baik. Ketika sistem lebih selaras, anak-anak memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat. Sebagaimana disampaikan Dr. Lucia Rizka Andalucia, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, dalam lokakarya ini, “Anak-anak membutuhkan obat-obatan yang dirancang khusus untuk kebutuhan mereka. Penguatan akses pada obat-obatan anak yang tepat memerlukan upaya terkoordinasi di dalam regulasi, sistem pasok, dan layanan kesehatan.” 

Para peserta juga menyoroti dampak pada praktik klinis. Profesor Dyah Perwitasari dari Kolegium Farmasi menjelaskan jika obat-obatan yang sesuai untuk anak tidak tersedia, apoteker dan tenaga klinis harus menyesuaikan dosis atau menyiapkan obat dengan cara berbeda. Profesor Erna Kristin dari Universitas Gadjah Mada menambahkan bahwa informasi yang jelas tentang kebutuhan obat-obatan anak dapat membantu mendukung pengambilan keputusan mulai dari penelitian dan perizinan hingga pembelian dan penggunaan 

Sejak lokakarya perkenalan ini, dialog dilanjutkan dalam serangkaian pertemuan teknis. Pada 18 Mei 2026, kantor WHO pusat dan Kantor WHO Negara untuk Indonesia mengadakan diskusi lanjutan dengan Kementerian Kesehatan untuk mengkaji masukan dan pelajaran dari lokakarya obat-obatan anak regional pada minggu sebelumnya serta usulan pendekatan untuk analisis lanskap obat-obatan anak Indonesia. Diskusi-diskusi ini membantu mempertajam cakupan dan metodologi penilaian, memastikan bahwa analisis-analisis selanjutnya diarahkan dengan prioritas nasional dan pengalaman kawasan. 

Lokakarya perkenalan ini merupakan langkah penting pertama dalam upaya lebih luas untuk memahami ekosistem obat-obatan anak di Indonesia. Temuan-temuannya, bersama diskusi teknis selanjutnya, akan menjadi dasar untuk penilaian lanskap yang komprehensif yang menelisik hambatan serta kesempatan di seluruh ekosistem tersebut. Penilaian ini akan mendukung perumusan rekomendasi praktis bagi pembuat kebijakan di Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, dan pemangku kepentingan lainnya, menuju akses yang lebih konsisten dan berkeadilan terhadap obat-obatan esensial bagi anak-anak. 


Kegiatan ini didukung oleh Temasek Foundation melalui Global Accelerator for Paediatric Formulations (GAP-f) WHO. 

Ditulis oleh Liyana Rakinaturia, National Professional Officer (Essential Drugs and Medicines), WHO Indonesia