Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan yang signifikan di Indonesia. Banyak kasus belum terdeteksi, serta kelemahan layanan pengobatan TB menunjukkan perlunya strategi nasional yang lebih kuat dan berbasis bukti untuk mengeliminasi penyakit ini.
Indonesia telah lama menghadapi beban tinggi TB, yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius di negara ini. Pada 2025, diperkirakan lebih dari 1 juta orang didiagnosis terjangkit TB, dengan jumlah kematian tiap tahun mencapai 134.000. Deteksi dini kasus dan memastikan pasien menyelesaikan pengobatan masih menjadi kendala berkepanjangan dalam pengendalian penyebaran penyakit ini.
Menjawab tantangan-tantangan ini, World Health Organization (WHO) mendukung Indonesia merampungkan kajian epidemiologi TB pada Mei 2025, yang kemudian dilanjutkan dengan Kajian Program TB Nasional pada Agustus 2025. Kedua kajian tersebut meninjau beban TB di Indonesia, tren TB, kinerja surveilans, dan kemajuan di sepanjang rangkaian layanan. Kedua kajian ini mengidentifikasi sejumlah tindakan prioritas, seperti penguatan layanan yang berpusat pada pasien dan dukungan sistem kesehatan.
WHO menyampaikan analisis epidemiologi tuberkulosis dalam pertemuan konsultasi pemangku kepentingan pertama yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan di Jakarta pada 31 Juli–1 Agustus 2025. Kredit: WHO/Yoana Anandita
Temuan dari kedua kajian tersebut dibahas dalam konsultasi pemangku kepentingan yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan di Jakarta pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2025. Hampir 200 peserta hadir, mewakili instansi pemerintah, organisasi masyarakat sipil, organisasi profesi, komunitas terdampak TB, dan mitra pembangunan. Dengan pendekatan yang berpusat pada pasien, para peserta mengidentifikasi kesenjangan-kesenjangan terpenting, menggali akar penyebab, dan memperjelas peran masing-masing pemangku kepentingan dalam mengatasi masalah ini.
Masukan dari konsultasi tersebut dijadikan dasar penyusunan Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Indonesia 2026–2030. Dari Agustus hingga November 2025, WHO, World Bank, dan mitra lainnya mendukung proses penyusunan terstruktur serta partisipatif. Draf akhir strategi kini telah tersedia untuk penyelarasan lebih lanjut dan akan segera diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan.
Menjadikan bukti dan kemitraan sebagai landasan bagi strategi ini membantu Indonesia memprioritaskan intervensi dengan dampak terbesar, menyelaraskan dukungan, dan memperkuat kolaborasi di semua tingkatan. Pendekatan ini mendukung upaya negara untuk mempercepat kemajuan dan semakin mendekatkan visi eliminasi TB.
Kegiatan ini didukung oleh Gates Foundation dan Global Fund.
Ditulis oleh Yoana Anandita, National Consultant (TB), dan Maria Regina Christian, National Professional Officer (TB), WHO Indonesia.