Petugas imunisasi memegang peran penting dalam upaya mencapai cakupan imunisasi yang tinggi dan merata. Namun, sebuah kajian pada 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 37% puskesmas tidak memiliki petugas terlatih, dan lebih dari setengah dari lebih dari 10.000 petugas imunisasi belum pernah mengikuti pelatihan terakreditasi. Tingginya rotasi petugas, kendala biaya dan jarak, serta pembatasan pelatihan bersertifikat hanya bagi pegawai negeri sipil turut berkontribusi terhadap kesenjangan ini.
Sebagai bagian dari dukungan jangka panjang World Health Organization (WHO) kepada Kementerian Kesehatan, berbagai upaya strategis dan menyeluruh dijalankan pada 2025 untuk mengatasi tantangan tersebut. WHO membantu pengembangan program pelatihan selama seminggu untuk para koordinator imunisasi, menggantikan pelatihan dua minggu sebelumnya yang tidak berkelanjutan, dengan fokus pada kebutuhan di tingkat implementasi. Program pelatihan baru selama tiga hari juga dikembangkan untuk para tenaga kesehatan yang menjadi juru imunisasi. WHO mendukung komponen daring dari kedua program tersebut, memungkinkan pembelajaran campuran dan mengurangi biaya. Lebih lanjut, sebuah instrumen baru untuk evaluasi pelatihan dikembangkan guna mengatasi kesenjangan penting dalam pelatihan pengelola imunisasi di Indonesia, yang sebelumnya hanya mengandalkan ujian pra- dan pasca-pelatihan tanpa mekanisme untuk menilai penerapan pelajaran di situasi nyata. Upaya-upaya ini juga dilengkapi dengan alat bantu kerja berupa video singkat dan mudah digunakan untuk menjaga kualitas layanan imunisasi.
Aspek pascaimunisasi juga menjadi perhatian. Pelatihan surveilans kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) bagi petugas tingkat provinsi dijalankan setelah pelatihan serupa bagi petugas tingkat nasional. Rangkaian pelatihan ini merupakan bagian dari dukungan WHO Indonesia untuk upaya Indonesia mencapai status WHO-Listed Authorities untuk vaksin.
WHO juga terus terlibat aktif di lapangan. Vaccination technical officer (petugas teknis imunisasi) WHO telah melatih lebih dari 1.000 staf puskesmas, dinas kesehatan, dan rumah sakit di lima provinsi sepanjang 2025. Hasil pelatihan ini dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang kerja para peserta, termasuk imunisasi sepanjang siklus hidup serta surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dan KIPI.
Dukungan WHO dalam berbagai bentuk terus memperkuat komitmen Indonesia terhadap imunisasi dan mewujudkan hak masyarakat atas kesehatan. Dukungan ini juga sejalan dengan Immunization Agenda 2030 dan target-target nasional eliminasi campak–rubela dan pemberantasan polio. Dalam keseluruhan proses ini, WHO menegaskan bahwa tenaga kesehatan merupakan fondasi utama keberhasilan program imunisasi.
Kegiatan ini didukung oleh GAVI, the Vaccine Alliance.
Ditulis oleh Rodri Tanoto, National Professional Officer (New Vaccine), dan Chavia Trufani, National Professional Officer (Immunization), WHO Indonesia.