Pada 27–30 Oktober 2025, lokakarya pelatihan laboratorium tentang diagnosis difteri diselenggarakan di Jakarta, Indonesia. Kegiatan ini mempertemukan 18 tenaga laboratorium dari berbagai wilayah di Indonesia untuk memperkuat kapasitas nasional dalam mendeteksi dan mengonfirmasi kasus difteri secara tepat waktu.
Difteri merupakan penyakit menular serius yang dapat menyebabkan infeksi berat pada tenggorokan, sumbatan pada saluran pernapasan, serta komplikasi pada jantung dan saraf. Meskipun dapat dicegah dengan imunisasi, kejadian luar biasa (KLB) masih terjadi secara sporadis di negara-negara dengan cakupan imunisasi yang menurun. Oleh karena itu, deteksi dan konfirmasi kasus dengan cepat sangat penting untuk memulai pengobatan, melacak kontak, dan menerapkan langkah-langkah pengendalian.
Pelatihan selama empat hari tersebut diselenggarakan oleh World Health Organization (WHO) Collaborating Centres for Diphtheria di UK Health Security Agency (UKHSA), London, Inggris dan Bavarian State Office for Health and Food Safety (Bayerisches Landesamt für Gesundheit und Lebensmittelsicherheit – LGL), Munich, Jerman, bekerja sama dengan Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan, WHO Indonesia dan Kantor WHO Kawasan Pasifik Barat, serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Lokakarya ini merupakan bagian dari inisiatif regional WHO untuk memperkuat jejaring laboratorium dalam surveilans dan pengendalian penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Selama pelatihan, para peserta melakukan praktik langsung isolasi dan identifikasi spesies Corynebacterium penyebab difteri. Sesi-sesi pelatihan mencakup kultur bakteri dan uji biokimia, penentuan tipe molekuler dan uji toksin difteri, serta penerapan keamanan hayati, pemantapan mutu, dan prosedur pelaporan data. Para pelatih dari UKHSA dan LGL juga menjelaskan praktik terbaik dalam pengambilan spesimen klinis dan sistem rujukan untuk memastikan diagnosis yang akurat dan tepat waktu.
/countries/indonesia/img_2208.jpg?sfvrsn=dafefdf5_5)
Dr Stephen Chacko, kepala tim WHO untuk penyakit menular, menekankan pentingnya kolaborasi ini: “Diagnosis laboratorium yang akurat dan cepat sangat penting untuk mengonfirmasi kasus difteri dan menentukan respons kesehatan masyarakat yang efektif. Penguatan kapasitas laboratorium di tingkat nasional dan subnasional membantu memastikan Indonesia siap mendeteksi dini difteri dan mencegah terjadinya KLB.”
Profesor Androulla Efstratiou dari UKHSA menyoroti nilai kerja sama laboratorium yang berkelanjutan: “Lokakarya ini menunjukkan bagaimana berbagi keahlian di antara institusi rujukan internasional dan laboratorium-laboratorium nasional dapat memperkuat kapasitas diagnostik dan surveilans penyakit di tingkat regional. Sistem laboratorium yang kuat merupakan inti dari respons KLB yang efektif.”
Profesor Andreas Sing dari LGL menambahkan: “Selain aspek teknis, pelatihan ini mendorong kolaborasi dan standardisasi metode diagnostik antarnegara, yang sangat penting bagi pengendalian difteri di tingkat global.”
Selain memperkuat keterampilan laboratorium, lokakarya ini juga menegaskan kembali peran penting imunisasi dalam pencegahan difteri. Pemberian vaksin yang mengandung toksoid difteri termasuk dalam jadwal imunisasi rutin anak di seluruh dunia dan dapat memberikan perlindungan jangka panjang apabila diikuti dengan dosis ulangan (booster).
Pelatihan di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan WHO dan para mitranya untuk memastikan laboratorium-laboratorium nasional memiliki kesiapan dan kemampuan yang memadai dalam mengidentifikasi serta merespons difteri dan penyakit lain yang dapat dicegah dengan imunisasi. Melalui penguatan jejaring laboratorium diagnostik dan peningkatan kolaborasi antara pusat-pusat rujukan internasional dan laboratorium-laboratorium nasional, negara-negara di kawasan ini semakin siap melindungi masyarakat dan menyelamatkan nyawa.
Ditulis oleh Joshua Harmani, National Professional Officer (VPD Surveillance) dan Tina Kusumaningrum, National Professional Officer (Labs), WHO Indonesia WHO Indonesia