Kementerian Kesehatan RI
Tim Indonesia menggunakan Event Information Site sebagai bagian dari simulasi Crystal.
© Credits

Indonesia Memperkuat Respons terhadap Penyakit melalui Latihan Simulasi Regional

4 February 2026
Highlights

Deteksi dan respons cepat terhadap penyakit-penyakit berpotensi wabah terus menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Koordinasi antara berbagai lembaga pemerintah, rumah sakit, pintu masuk negara, dan laboratorium dalam kedaruratan kesehatan tetap kompleks, khususnya jika penyakit dapat menyebar antarnegara dalam hitungan jam.

Indonesia berkomitmen mengimplementasi Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) (2005), yang memberikan panduan kepada Negara-Negara Peserta tentang hak dan kewajiban mereka terkait risiko kesehatan masyarakat. Dalam IHR (2005), negara wajib membentuk dan mempertahankan fungsi narahubung nasional yang disebut National Focal Point (NFP). NFP menjadi pusat koordinasi  dan komunikasi dengan World Health Organization (WHO) dan NFP-NFP lain serta mengelola respons terhadap kejadian kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (KKM-MD) bersama sektor-sektor lain.

Pada 3 Desember 2025, Indonesia beserta 30 negara dan wilayah di Kawasan WHO Pasifik Barat mengikuti latihan simulasi IHR Crystal. Partisipasi Indonesia mencerminkan kelanjutan keterlibatan negara ini dalam kerja sama regional, termasuk Asia Pacific Health Security Action Framework, yang memandu negara-negara dalam membangun sistem ketahanan kesehatan yang tangguh.

Simulasi ini menguji bagaimana NFP-NFP menangani skenario penyebaran penyakit zoonosis dari hewan ke manusia maupun antar-manusia. Para peserta berlatih mendeteksi dan memantau sinyal-sinyal penyakit secara real-time, memverifikasi rumor, melakukan penilaian risiko, dan berkomunikasi dengan mitra-mitra internasional untuk pelaksanaan respons yang cepat.

Dalam latihan ini, Indonesia mendemonstrasikan kapasitasnya dalam area-area penting tersebut. Para pejabat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengeluarkan peringatan kesiapsiagaan, menyiagakan petugas garis depan, dan berkoordinasi dengan bandar udara, pelabuhan, pos lintas perbatasan darat, rumah sakit, fasilitas pelayanan kesehatan primer, dan laboratorium. Para pejabat tersebut juga berkolaborasi dengan sektor kesehatan hewan, lingkungan hidup, dan margasatwa. Latihan ini menunjukkan koordinasi antara unit surveilans dan laboratorium di semua tingkat, termasuk pengambilan, pengiriman, dan uji laboratorium sampel serta koordinasi multisektoral dalam aktivasi rencana respons dan penempatan tim gerak cepat. Latihan ini juga menyoroti pentingnya komunikasi yang efisien dari lapangan ke Pusat Operasi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat untuk analisis dan pengambilan keputusan yang cepat.

Indonesia juga menggunakan Event Information Site, platform internasional untuk pembagian informasi terbaru terkait KKM-MD. Selama latihan ini, para pejabat terus berkomunikasi secara transparan kepada WHO tentang kejadian-kejadian dengan pola, tingkat keparahan, atau risiko penyebaran lintas perbatasan yang tidak biasa.

Dewi Sartika, Administrator Kesehatan - Ahli Madya di Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, menyatakan, “Latihan komunikasi kejadian yang berkaitan dengan IHR ini memberikan pelajaran-pelajaran penting untuk memperkuat koordinasi lintas sektor. Komunikasi dan pembagian informasi cepat dan tertata dengan berbagai sektor tetap penting untuk deteksi dini dan respons kesehatan masyarakat yang efektif.”

Sekelompok orang dalam ruangan rapat

Tim Indonesia dalam latihan simulasi IHR Crystal. Kredit: Kemenkes RI

Untuk Indonesia, meningkatkan kesiapsiagaan melindungi kesehatan masyarakat dan stabilitas ekonomi. Deteksi dan respons dini dapat mencegah kejadian-kejadian luar biasa (KLB) berskala kecil agar tidak menjadi wabah besar yang mengganggu perdagangan, pariwisata, dan kehidupan sehari-hari. Latihan ini memperkuat pendekatan 7-1-7, yang bertujuan mendeteksi dugaan KLB penyakit dalam tujuh hari, memberikan laporan kepada otoritas kesehatan masyarakat dalam satu hari, dan merampungkan tindakan-tindakan respons awal dalam tujuh hari.

Pelajaran dari simulasi  Crystal ini akan mengarahkan revisi Rencana Aksi Nasional Ketahanan Kesehatan Indonesia, termasuk terkait pembaruan basis data informasi kontak dan perluasan pelibatan sektor-sektor terkait dalam kegiatan kesiapsiagaan di masa mendatang.


Ditulis oleh Dr Endang Widuri Wulandari, National Professional Officer (Epidemiologist), WHO Indonesia