Kementerian Kesehatan RI
Para peserta dari Kementerian Kesehatan, Pusat Kesehatan dan Kedokteran Polri, dan Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia memberikan perspektif mereka selama Latihan Simulasi Meja PRET Nasional.
© Credits

Indonesia Menguji Kesiapsiagaan terhadap Pandemi dengan Latihan Meja PRET Nasional

6 January 2026
Highlights

Dengan dukungan World Health Organization (WHO), pemerintah Indonesia mempertemukan 44 lembaga untuk latihan meja (table-top exercise/TTX) Preparedness and Resilience for Emerging Threats (PRET) pada 24–26 September 2025. Latihan ini menguji koordinasi seluruh pemerintah (whole of government) terkait kelima pilar kerangka PRET, berdasarkan pelajaran-pelajaran dari respons COVID-19 untuk memperkuat kesiapsiagaan nasional terhadap kedaruratan kesehatan di masa mendatang.

Kejadian-kejadian flu burung di tingkat global dan regional saat ini menyoroti pentingnya mengkaji sistem, mekanisme koordinasi, dan kesiapsiagaan operasional nasional dengan simulasi. Flu burung masih menjadi kekhawatiran di kawasan ini dengan terdeteksinya kasus di sejumlah negara, yang menunjukkan pentingnya kewaspadaan berkelanjutan. Mengingat eratnya konektivitas Indonesia dalam jalur perdagangan unggas, perjalanan, dan jalur migrasi burung, kelanjutan kesiapsiagaan baik di sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan penting untuk memastikan deteksi dan respons cepat terhadap kemungkinan-kemungkinan ancaman.

Seorang lelaki sedang berbicara di podium.Kementerian Kesehatan memimpin sesi pembukaan latihan meja PRET, yang mempertemukan para pemangku kepentingan lintas sektor untuk memperkuat kesiapsiagaan Indonesia terhadap pandemi. Kredit: Kemenkes RI

Untuk menjalankan kerangka PRET global, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dengan dukungan finansial dari WHO Indonesia melalui Pandemic Influenza Preparedness Framework, melaksanakan TTX di Jakarta. Latihan ini menggabungkan 65 peserta dari tingkat nasional maupun subnasional untuk menguji koordinasi kedaruratan, surveilans kolaboratif, perlindungan masyarakat, tata laksana klinis, dan akses pada langkah pengendalian – yang menjadi kelima pilar PRET.

WHO Indonesia memberikan dukungan teknis untuk mengadaptasi perangkat latihan PRET global ke dalam skenario simulasi wabah flu burung lokal, dari peringatan awal hingga penyebaran meluas serta pemulihan. Latihan ini memperkuat koordinasi lintas sektor, menyelaraskan prosedur operasional, dan memperjelas jalur komando, sehingga menghasilkan daftar tindakan nasional prioritas untuk memperkuat kapasitas kesiapsiagaan dan respons.

TTX PRET ini juga semakin memperkuat kolaborasi seluruh pemerintah dan One Health Indonesia yang sudah baik. Para peserta mencakup perwakilan dari berbagai kementerian, lembaga, dan mitra seperti Food and Agriculture Organization, ASEAN Biological Threats Coordination Centre, dan ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Diseases, beserta Tentara Nasional Indonesia, kepolisian, akademisi dan organisasi profesional.

Para petugas evaluasi dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, dan Universitas Padjadjaran memberikan masukan strategis yang dapat mempertahankan peningkatan.

Peserta pertemuan duduk di balik meja saat mengikuti diskusi dalam latihan meja PRET.WHO, Food and Agriculture Organization (FAO), dan ASEAN Biological Threats Coordination Centre (ABVC) bersama-sama memfasilitasi sesi tentang pilar pengawasan kolaboratif, memperkuat koordinasi multisektoral Indonesia untuk deteksi dan respons dini. Kredit: WHO/Fieni Aprilia

“Latihan ini menjadi kesempatan yang baik untuk mempertemukan semua sektor di bawah pendekatan keseluruhan pemerintah. Selanjutnya, kami melihat kemungkinan membuat simulasi-simulasi berikutnya menjadi lebih menarik dengan cara memperkuat koordinasi serta memberikan skenario yang lebih dinamis,” ujar Merry Efriana, Asisten Deputi Penanganan Bencana Kemenko PMK.

Dr. Sumarjaya, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes mencatat bahwa TTX memberikan kesempatan praktis untuk belajar, berkolaborasi, dan memperkuat ketahanan nasional. “Dengan mensimulasi kerangka kesiapsiagaan kita, kita membawa semua sektor ke dalam pendekatan One Health untuk mengidentifikasi kekuatan, mengatasi kelemahan, dan memperkuat respons kita bersama,” jelasnya.

Dengan dukungan teknis yang berkelanjutan dari WHO, pemerintah Indonesia mengintegrasikan hasil dari pelatihan ini ke dalam upaya penguatan kesiapsiagaan, perencanaan dan koordinasi antara tingkat nasional dan subnasional. TTX menjadi langkah penting dalam penerapan kerangka PRET, membantu memperkuat sistem kewaspadaan dini, koordinasi komando, perencanaan kontingensi, serta kolaborasi multisektoral demi terwujudnya sistem kesiapsiagaan nasional yang lebih berketahanan.


Kegiatan ini didanai oleh Pandemic Influenza Preparedness Framework.

Ditulis oleh Resty Armis, National Professional Officer (Avian Influenza & Emerging Infectious Diseases), WHO Indonesia